Berita Terbaru

Kruw KM Jungge-Mbojo

KOORDINATOR/MOTIVATOR: HM. Nasir Ali TATA LETAK: Joe Ningrat, KOORDINATOR LIPUTAN: Nas Andika, UNIT USAHA: Wukufatul Arafah, PENULIS/KONTRIBUTOR: Wukufatul, HM. Nasir, Awalul Khair, Shafiratul Islamiah,Abdul Hamid, Jufrin, KAMERAMEN: Nas Andika, STAFT IT: Irank Scripter, KONSULTAN/PEMBINA: Camat Wawo, Dishubkominfo Kabupaten Bima, Dishubkominfo Provinsi NTB

Jumat, 09 Mei 2014

Partisipasi Warga Dodu Perlu Diapresiasi

Tim penilai lomba kelurahan saat memperhatikan produksi telur asin khas Kelurahan Dodu 
(Dok. Nasir)

Bagaimana komentar Ketua Tim Penilai Lomba Terintegrasi Kota Bima, Drs. M. Farid, M.Si? Dia menilai, tingkat partisipasi warga Dodu patut diacungi jempol karena sejak pagi telah menunggu tim yang hadir menilai Kelurahan Dodu. Ini merupakan salahsatu nilai tambah yang perlu diapresiasi. Apalagi, profil potensi Kelurahan Dodu juga salahsatu penilaian lebih.

Namun, katanya, dalam lomba ini sudah jelas aturannya dan dilakukan secara berjenjang dan sudah ditentukan waktunya. Oleh karena itu yang diperlukan adalah bagaimana mengubah pola berpikir masyarakat, terutama yang berkaitan dengan penataan lingkungan, pendidikan, kesehatan, perpustakaan, dan lainnya.

“Kita salut dan mengapresiasi   tingginya tingkat partisipasi masyarakat melalui budaya gotong royong. Hal itu layak kita dipertahankan,” ujarnya.

Semua itu, katanya, diapresiasi dan tim akan menilai secara objektif  dari sisi administrasi dan  kondisi fisik secara riil . Jika tim menganggap Kelurahan Dodu ini layak mewakili Kota Bima pada lomba tingkat Provinsi NTB, maka itulah hasil kolektif dari tim penilai. Semua itu tim akan menilai secara integrasi antara penilaian tentang administrasi kelurahan, posyandu, dan P2WKSS. Demikian juga dengan nilai riil di lapangan yang dilihat langsung oleh tim penilai.

“Tim secara terintegrasi menilai administrasi dan kondisi riil di lapangan. Untuk kelurahan 50 persen, Posyandu dan P2WKSS masing-masing 25 persen,” katanya. (Aji)

Kelurahan Dodu Dinilai, Tim Disambut Hangat



Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Hj Eka Badrah, sempat berdialog mengapresiasi hasil usaha warga Dodu. (Dok. Nasir)
Kelurahan Dodu sebagai duta Kecamatan Rasanae Timur pada lomba Kelurahan Tingkat Kota Bima, Jumat (9/5), dinilai. Tim penilai disambut meriah oleh ratusan warga yang menunggu sejak pukul 08.00 WITA. Mereka disambut hangat oleh Lurah Dodu, Juraidin, S.Sos, Camat Rasanae Timur, H. Fakharudin, S.Sos dan tari penyambutan.

Ketua tim penilai, Drs. M. Farid, M.Si dan anggotanya sempat menyaksikan beberapa anggota PKK Lurah Dodu yang menggelar hasil kerajinan warga. Seperti makanan khas Bima, susu kedelai, bohi dungga, abon khas Dodu, tenun Bima, telur asin, dan lainnya. Bahkan, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Hj Eka Badrah, sempat berdialog mengapresiasi hasil usaha warga Dodu.
Camat Rasanae Timur, H. Fakharudin, S.Sos, mengatakan,  Dodu memiliki keragaman potensi alam  bidang pertanian, peternakan, perkebunan, dan lainnya. Untuk bidang pertanian Kelompok Tani Samada pernah meraih juara I tingkat Nasional dan puluhan warga Dodu pernah menginjakan kakinya di istana Negara.

Tidak hanya itu, katanya, di kelurahan ini memiliki penangkar benih padi unggul untuk Kota Bima dan sekitar. Dibidang peternakan sapi ada dua kelompok ternak yakni Bima Bersama dan Kelompok Muncul Baru. Bahkan, kelompok ternak Bima Bersama akan mewakili Kota Bima di tingkat Provinsi NTB dan akhir bulan ini akan dinilai tim Provinsi.

Dia menjelaskan, ada sembilan unit usaha ternak ayam potong dan satu diantaranya usaha mandiri. Di Dodu memiliki tiga unit usaha penggilingan padi, memiliki dua perusahaan air minum yakni Mori dan 55. Pada bidang perkebunan rambutan, mangga, duren alam dan duren Bangkok, salak, langsat, dan lainnya, sedangkan di bidang perikanan ada tambang ikan putri duyung yang dijadikan tempat pembibitan dan budidaya ikan air tawar, dan lainnya.

Kelurahan Dodu, katanya, memang memiliki potensi luarbiasa, maka layak untuk mewakili Kota Bima dalam lomba Kelurahan tingkat Provinsi NTB. “Kita tidak meminta juara, tetapi jika dipercaya untuk mewakili Kota Bima kami siap membenahi semua indikator penilaian,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Lurah Dodu, Juraidin, S.Sos. Berbagai potensi yang ada sangat mendukung untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Namun, jika Kelurahan Dodu terpilih mewakili Kota Bima pada lomba terintegrasi Provinsi NTB, warga Kelurahan Dodu akan siap lahir bathin untuk memberikan yang terbaik.

Apalagi, di Kelurahan Dodu dukungan sarana dan prasarana pendidikan seperti SD/MI dan memiliki Pondok Pesantren Darul Furqan yang tidak hanya mengajarkan anak-anak dari Kelurahan Dodu, tetapi dari berbagai daerah di Kota dan Kabupaten Bima dan daerah lain.“Jadi semua itu mendukung untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Kita berharap dalam lomba ini tim menilai secara objektif potensi dan dukungan masyarakat,” katanya. (Aji)

Sabtu, 03 Mei 2014

Catatan dari KM Jungge Mbojo



Beberapa  model akcesoris  Jungge Mbojo yang digunakan saat prosesi pernikahan (Dok. Wukuf)
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Sapaan itu mungkin layak dilantunkan karena atas izin jualah sehingga Kampung Media (KM) Jungge Mbojo yang beralamat di Desa Maria Kecamatan Wawo Kabupaten Bima Provinsi NTB ini mulai berkiprah dengan berbagai kegiatan jurnalis warga  (citizen journalist).

Satu kesyukuran kami saat gelar acara Temu Kreatif Antar Komunitas Kampung Media, 22 April 2014 di SMPN 3 Kecamatan Woha, Kampung Media ini termasuk 20 KM baru yang diakomodir oleh Dinas Perhubungan dan Kominfo Kabupaten Bima, Muhaimin, SH dan Koordinator Kampung Media NTB, H  Fairuz Abadi, SH, MH.

Jungge Mbojo itulah sebuah nama yang dipilih. Kenapa? Karena keindahan kembang buatan yang disebut Jungge Mbojo oleh etnis Bima-Dompu memberikan warna-warni bagi kehidupan masyarakat, terutama penulis dan pengelola KM ini. Jungge Mbojo juga akan eksis sebagai media tulis bagi siapapun yang ingin mampir di areal online sederhana ini, sebagai salah satu media pembelajaran bagi siapapun untuk mengubah kebiasaan bertutur menjadi terbiasa menulis. Artinya, sebagai jurnalis warga penulis dan pengelola mulai unjuk gigi menjaga stamina agar senantiasa menempatkan diri menggoreskan penanya menuliskan segala sesuatu yang didengar, dilihat, dan dialami setiap saat yang kita lalui. Kata orang bijak aqad yang baik adalah dengan menulis karena kapanpun tulisan itu dapat dilihat dan dibaca kembali.
Jungge Mbojo yang berwarna-warni (Dok. Wukuf)

Tidak hanya itu, KM Jungge Mbojo merupakan cermin kecerdasan dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada di sekitar, lalu menuliskannya dalam sebuah kalimat yang indah. Seperti dalam tajuk Kampung Media NTB sampaikan informasi walaupun hanya satu kalimat. Tentu saja untuk menjadi jurnalis warga tidaklah mudah, tetapi dengan terus berlatih dan membiasakan menulis akan lebih baik dibandingan dengan kebiasaan kita yang banyak bicara.

Budaya tulis melalui melalui media online merupakan tindakan positif sebagai pembelajaran. Media ini akan mengasah kemampuan jurnalisme warga sebagai penguatan bagi media informasi, komunikasi, dan teknologi di Provinsi NTB. Ini khas loh, semoga berhasil.

Jumat, 02 Mei 2014

Profil Jungge Mbojo

Inilah warna-warni Jungge-Mbojo yang mewarnai indahnya Peta Kapanca dalam prosesi adat pernikahan di Bima. (Dok. Nasir)

Jungge-Mbojo.-Jungge Mbojo merupakan kembang buatan dari kertas yang berwarna-warni. Media yang digunakan menggunakan batang pisang untuk mencapkan kembang buatan baik dari kertas berwarna-warni, buah-buahan, dan telur matang. 
Istilah Jungge Mbojo hanya populer dikalangan etnis Bima dan Dompu Provinsi NTB. Itupun terbatas penggunaannya hanya ketika prosesi khitanan bagi anak-anak dan tempelkan daun pacar yang sudah ditumbuk (peta kapanca) bagi pengantin perempuan sebelum digelar prosesi akad nikah. Prosesi peta kapanca bagi penganten perempuan sangat sakral bagi etnis Bima. Maka tidak heran acaranya cukup meriah dan dinantikan kaum hawa.

Apalagi, prosesi itu merupakan tradisi leluhur yang masih dipertahankan hingga zaman serba modern saat ini. Usai prosesi peta kapanca, Jungge Mbojo sebagai hiasan acara itu dibagikan  secara merata kepada undangan yang hadir, sehingga nuansa sakral dan sarat kebahagian bukan hanya dirasakan oleh calon pengantin, tetapi juga oleh orang tua, anak-anak, dan remaja.

Mengiringi prosesi adat Bima itu, qari dan qariah melantunkan  ayat-ayat suci Al Quran, kemudian lantunan  Shalawat Nabi, pembacaan  bai-bait puisi tentang beratnya seorang ibu dan ayah membesarkan anak hingga cukup umur untuk berumah tangga. Syair puisi dibacakan dengan penuh penghayatan. Maka tidak heran suasana hitmad terasa kental dalam prosesi  itu. Bahkan, banyak undangan yang meneteskan air mata. Baru dilanjutkan calon pengantin perempuan akan mendapatkan balutan  daun kapanca yang sudah ditumbuk halus lalu ditempelkan pada kedua telapak tangan dan jari-jari kaki. Hasil peta kapanca itu akan memberikan warna kepada telapak tangan dan kakinya Sang calon pengantin perempuan.

Saat prosesi peta kapanca calon pengantin perempuan akan duduk menjulurkan kedua kakinya, sedangkan tangan juga diulurkan di atas kedua pahanya dan disaksikan calon suami. Prosesi diakhir dengan doa bersama semoga calon pasangan pengantin itu dapat berkah langgeng hingga maut memisahkan mereka berdua. (Wukufiatul Arafah)

Desa Maria Dinilai Tim Kabupaten

Beberapa produk pertanian yang ditampilkan saat lomba desa (Dok Nasir)
KM JUNGGE MBOJO.-      Tim penilai Lomba Desa Tingkat Kabupaten Bima, Rabu (30/4) lalu, menilai Desa Maria Kecamatan Wawo. Ketua Tim penilai, Putarman, SH,  disambut meriah oleh warga setempat dengan tari penyambutan Wura Bongi Monca dan kesenian tradisional lainnya. Tim disambut hangat oleh Kepala Desa Maria, Nurdin HM Saleh, majelis Adat Maria, dan Camat Wawo, Syafrudin Daud, S.Sos. Tim penilai dari berbagai instansi itu sebelum menilai menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu khas lomba lainnya. 


Camat Wawo, Syafrudin Daud, S.Sos, mengatakan, sebulan terakhir ini sibuk menyiapkan lomba Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) tingkat Provinsi NTB untuk Desa Maria. Apalagi, desa ini mengikuti dua lomba sekaligus yakni lomba desa tingkat Kabupaten Bima dan lomba BBGRM Provinsi NTB. 

Persiapan itu, katanya, tidak mungkin dilakukan sendiri oleh kepala desa (Kades) dan Camat Wawo, tetapi karena dilakukan bersama mampu menata   administrasi, lingkungan, dan lainnya. Setelah dipercaya menjadi Camat Wawo, kesibukan awal langsung ‘tancap gas’ menyiapkan dua lomba itu. Menyusul keterbatasan itu, terangnya, masih banyak yang seharusnya disiapkan, terutama berbagai indicator penilaian. Namun, jika Desa Maria dipercaya untuk menjadi duta Kabupaten Bima pada lomba desa tingkat Provinsi NTB, maka segala sesuatu itu akan dibenahi lebih baik lagi. 

“Pengalaman kami saat menjadi Camat Sape beberapa kali dipercaya untuk mewakili Kabupaten Bima tidak mengecewakan dan memberikan prestasi terbaik bagi Kabupaten Bima di tingkat Provinsi NTB,” ujarnya di  depan tim penilai di aula Desa Maria, Rabu.Dia berharap kali ini Desa Maria dapat dipercaya untuk mewakili Kabupaten Bima pada lomba desa tingkat Provinsi NTB beberapa bulan ke depan.     

Ketua Tim Penilai Lomba Desa, Putarman, SH, menjelaskan, tim penilai  bersyukur  disambut  hangat warga Desa Maria dengan berbagai kesenian tradisional. Berbagai indikator penilaian sudah ditentukan berkaitan dengan penilaian administrasi desa, kegiatan PKK desa.Tidak hanya itu, katanya, tim juga meninjau lokasi dusun hingga RT untuk mengetahui secara riil apa yang telah dilakukan warga Maria sebagai duta Kecamatan Wawo pada lomba tingkat Kabupaten Bima. Di dusun sampel tim penilai meninjau kegiatan siskamling, Posyandu Balita dan Lansia, serta kegiatan PKK dusun. 

“Beberapa catatan tim akan disampaikan kepada kepala desa dan panitia. Tentu setiap desa berharap bisa meraih yang terbaik, tetapi karena tim ini kerja secara kolektif maka penilaian juga dilakukan secara kolektif. Doakan saja semoga desa ini meraih yang terbaik,” katanya. (Aji)



 
Copyright © 2014 KM JUNGGE MBOJO
| B-11
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube